Kenapa Kapal Nelayan Asing Pencuri Ikan Ukurannya Kecil-Kecil? Karena…

kapal-vietnam-ilegal

Kira-kira seperti inilah penampakan perahu-perahu nelayan illegal yang jumlahnya mungkin ribuan buah yang mengeruk kekayaan laut Indonesia setiap harinya tanpa henti dan selama puluhan tahun!

Buat yang hobby mancing di tengah lautan, melihat perahu-perahu kelas kecil atau sedang bahkan sangat besar yang hilir-mudik di lautan yang kaya ikan mengkin sudah biasa. Kadang juga para hobbies pemancing laut berpapasan dengan perahu kecil yang kita curigai sebagai perahu nelayan asing illegal yang kerjanya cuma “mengeruk” kekayaan laut di perairan Indonesia. Yup, mereka nelayan illegal!

Akibat darinya, maka Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yang juga memiliki segudang pengalaman di laut selama puluhan tahun, pastinya jauh lebih tahu daripada kelas hobbies mancing laut, apalagi ia sebagai pelaku bisnis di laut dan bisnis hasil laut dalam beberapa dekade.

Tapi yang jarang mancing atau yang cuma suka mancing kelas kotak kolam atau tambak, apalagi yang tak pernah mancing dilaut, pengalaman seperti ini cuma “Blank” alias gelap.

Namun tak sedikit manusia-manusia dalam kegelapan itu yang ikut berucap, seakan pakar dengan segudang pengalaman, sok mengetahui bagaimana bentuk dan rupa serta ukuran perahu-perahu nelayan asing illegal yang selama puluhan tahun telah menyedot kekayaan bawah laut Indonesia.

mancing selat sunda 4

Setelah subuh, kami berangkat membelah ombak yang masih tenang menuju ke tengah laut.

Dari puluhan kali melaut hanya untuk menyalurkan hobby mancing di laut, untuk kesekian kali ini kembali ke perairan Selat Sunda, sekitar medio 2011. Peralatan pancing laut dan embel-embel beserta tetek-bengeknya sudah ada di dek kapal, saatnyalah untuk siap melaut membelah ombak dari pelabuhan Cilegon di Banten menuju ke pulau Sumatera dan mancing diseputaran wilayah itu.

Bahkan ketika masuk ke perairan Lampung di pulau Sumatera, ada tempat yang pasti kami singgahi, hamparan pulau-pulau kecil tempat dimana ikan-ikan kuwe besar atau GT (Giant Travelly) biasa “bermain”.

Gugusan pulau-pulau itu masih indah tak tercemar, lautnya pun masih bersih. Burung-burung camar masih banyak bersarang di pulau-pulau karang itu. Begitu indahnya sampai lupa menurunkan umpan.

Ada satu pulau karang kecil yang berada ditengah-tengah pulau-pulau lainnya, tampak masih asri walau tampak agak gundul. Nah, disanalah paling banyak burung-burung camar membuat sarangnya. Itu salah satu tanda bahwa bisa dipastikan bahwa pulau itu pastinya tak ada predator disana.

yudiweb island

Pulau Yudiweb, Lampung, Sumatera.

Tapi ternyata pulau itu belum memiliki nama, maka saya namakan Pulau Yudiweb, yang berada pada kordinat 5°53’6″S ; 105°46’16″E , dan kini telah diberi tanda (tagged) di wikimapia sebagai pulau yang saya namai dengan nama saya sendiri,  hehehehe.

Ketika itu waktu lepas subuh di akhir minggu pada musim panas sekitar bulan Juni-Juli, maaf kalau tidak ingat persisnya karena sering mancing dan sudah beberapa tahun lalu.

Perjalanan menuju Pulau Tempurung, casting sebentar, lalu mengarah sedikit ke selatan, ke Pulau Panaitan.

Tak lama,  dari kejauhan tampak sebuah perahu dari arah utara (laut Jawa) menuju ke selatan, sepertinya ingin ke arah Krakatau, Ujung Kulon atau ke Samudera Hindia. Ukurannya tak beda jauh dengan perahu pancing, panjangnya sekitar 12-15 meteran, namun memiliki lambung yang dalam. Perahu itu muatannya masih kosong karena terlihat lebih tinggi.

Secara fisik terlihat perahu ini jelek, tapi jelek dalam arti lain, yaitu karena sering dipakai atau sering melaut. Mungkin karena memang sebagai perahu pencari ikan dalam kesehariannya. Diatasnya terdapat beberapa antenna radio, beda dengan perahu nelayan Indonesia yang tak semuanya memiliki alat komunikasi, adapun hanya satu antena karena andalan mereka hanyalah handphone.

Dari tiang diatasnya, berkibar bendera berwarna tak asing, merah dan putih, bendera milik bangsa dan seluruh warga Indonesia, namun ada yang ganjil dari bendera itu.

mancing selat sunda 5

Persiapan untuk casting dengan popper di Selat Sunda.

Tak seperti bendera-bendera merah-putih yang telah usang, robek-robak atau merahnya telah luntur yang dipasang para nelayan Indonesia diatas perahunya, kali ini bendera Indonesia itu tampak jarang dipakai atau bisa jadi malah baru.

Gulungan jala ada disisi samping dan belakang, ada pula yang menjurai sedikit kena air laut. Tongkat-tongkat pancing ada beberapa, ada pula lampu sorot pada tiang depan sekitar 4 buah.

Kanan kiri lambung kapal terdapat ban traktor masing-masing yang besar dua buah, totalnya ban besar ada empat buah yang berguna sebagai “bumper” jika sedang bersandar. Mirip pada gambar paling atas di artikel ini, namun agak berbeda warna dan agak beda bentuknya.

Tak tampak satu pun awak perahu pada saat itu, sepertinya masih di dalam lambungnya, karena masih pagi mungkin masih tidur-tiduran. Untuk kapasaitas muatannya jika dilihat dari besarnya lambung kapal yang masih tinggi karana masih kosong, pasti bisa mengangkut  lebih 5 ton ikan.

Dari ukuran perahu dan pengalaman selama mancing di laut, bisa jadi awak kapalnya minimal berjumlah belasan atau paling banyak 20 orang. Jadi mungkin bisa anda bayangkan seberapa ukurannya walau tampaknya kecil.

Perahu itu nyelonong di depan perahu pancing kami dan berjarak sekitar 50 meter. Saat itu masih pagi dan agak gelap, jadi tak sempat untuk difoto. Handphone pun sudah “diamankan” dalam kantong plastik agak tak terkena air laut dan kamera masih di dalam tas.

Lagi pula jaraknya perahu itu jauh, cuaca masih gelap dan bidikan kamera pasti bergoyang. Perahu makin menjauh kearah selatan, hingga nyaris menjadi titik hitam ditengah lautan, hanya asap agak hitam yang masih terlihat diatas cerobongnya membentuk sebuah garis yang menjauhinya.

mancing selat sunda 3

Inilah jenis perahu pancing yang kami naiki bukan kapal asing itu loh. Dan perahu bentuk seperti ini terkenal dikawasan Banten, Lampung hingga Cirebon.

Tak lama berselang setelah memandang perahu yang mencurigakan itu nyaris hilang diufuk selatan, saya masuk ke kabin menanyakan ke kapten “sohib” kocak tukang nelayan pancing itu.

“Perahu apaan tuh barusan lewat, kayaknya ‘agak’ canggih?”

“Itu perahu dari Vietnam”, jawab dang kapten.

“Hah? dari Vietnam? Pantes koq ada yang ‘agak’ beda, antenanya lebih dari satu, dan benderanya tampak masih baru”.

Ia pun melanjutkan,”Memang nelayan-nelayan itu memakai perahu-perahu kecil supaya gak keliatan mencolok dari perahu-perahu lokal, kalau pakai perahu besar justru bisa ketahuan donk!”, lanjutnya.

“Selain gak keliatan mencolok, lagi pula operasional perahu kecil jauh lebih murah, makanya bandar-bandar perahu dari negara asing itu mampu punya perahu seperti itu sampai ratusan buah, semua berkeliaran di laut Indonesia”, tambahnya dengan nada kecewa.

mancing selat sunda 2

Akhirnya strike Giant GT. Beratnya minta ampun, patah pinggang karena kayak narik gerbong kereta!

“Nah, elo dan nelayan-nelayan lain apa gak laporin tentang keberadaan nelayan-nelayan asing itu?”

“Percuma!”, jawabnya. “Kalo dilaporin, petugas cuek aja, karena dulu pernah ada yang ngelapor dan dikejar, akhirnya ketangkep juga, terus disuruh merapat di dermaga daerah Cilegon, tapi kata petugasnya langsung ada telepon dari Jakarta suruh dilepasain lagi”, lanjut sang kapten sambil tetap melihat ke halauan.

“Lah, koq orang yang di Jakarta bisa tau? Berarti mereka nelpon ‘back-up’annya donk?”

“Ya iyalah, mana mungkin perahu-perahu nelayan asing itu berani masuk sampai ke sini tapi gak ada backingnya? gila aja”, jelas sang kapten. “Makanya sampai sekarang gak kita aja, tapi petugas juga males nangkepnya”, lanjutnya.

“Kampret!”, dalam hatiku.

“Trus, elo pernah negur mereka gak?”

“Waktu dulu pernah iseng ajak ngobrol saat kapal jalan bersebelahan, mereka ternyata nyewa nelayan Indonesia juga, gak tau dari mana. Jadi kalau ada yang ajak ngobrol, nelayan dari Indonesia itulah yang disodorin ke kita buat ngobrol biar kita kira kalau itu perahu lokal juga, karena nelayan asing itu gak bisa ngomong bahasa Indonesia. Jadi kita pun bisa ketipu!”, jelas sang kapten.

“Wew, organizes crimes!” dalam hatiku lagi.

Ternyata semua sudah dikordinasi, tersusun dan terorganisir rapi, semua sudah di set-up! Selama puluhan tahun lamanya. Jelas ada aknom atau pejabat kotor yang bermain di bisnis ini, menjual kekayaan alam dan kedaulatan batas laut Indonesia!

illegal fhising 03

Nelayan illegal tertangkap di perairan Indonesia oleh TNI-AL

Obrolan pun terputus, kami terdiam. Saya cuma bisa terpaku menatap hamparan air laut nan indah di depan mata, aset kekayaan laut milik rakyat, bangsa dan negara yang tak dapat dinilai dan ditukar oleh apapun.

Saya menunduk sambil berfikir, jadi ada beberapa faktor sebab akibat, mengapa pencurian ikan atau illegal fishing yang sudah terjadi saban hari selama puluhan tahun susah diberantas, yaitu:

1. Kapal nelayan asing menggunakan perahu-perahu kecil yang hampir mirip untuk mengelabui nelayan dan petugas dan jumlah perahu ratusan buah pada setiap bandar besar dari negeri seberang.

2. Mereka menggunakan nelayan Indonesia sewaan agar jika tertangkap atau ditegur, maka nelayan dari Indonesia itulah yang menjawab atau yang me-lobby.

3. Adanya campurtangan dari pejabat setan kampret hati zionist yang mungkin dapat jatah dari bandar nelayan asing jika mau mem back-up nya.

4. Ciri-ciri kapal nelayan asing biasanya menggunakan bendera merah putih yang masih bagus dan menggunakan antena-antena untuk komunikasi yang “sedikit lebih canggih”, karena kalau jauh lebih canggih bisa katahuan. Mungkin jauh lebih susah jika menjelang atau setelah 17-an Agustus, karena para nelayan biasanya baru beli bendera baru juga, jadi jauh lebih sulit membedakan perahu lokal dengan perahu haram itu.

illegal fhising 01

Nelayan asing illegal tertangkap lalu dinaikkan ke dek kapal patroli sedangkan kapalnya akan dimusnahkan.

Kami semua masih terpaku. Tiba-tiba sang kapten berucap, “Sebentar lagi spot pertama, kita casting atau popping dulu aja, sepeti biasa saya mau ngoncer sambil nyari umpan hidup, ikan kembung, buat nanti mancing di spot dekat Sumatera”.

“Siaaap kapt!”, jawabku yang masih terpikirkan obrolan kami tadi. Seiring matahari mulai tinggi, sambil berkali-kali melemparkan umpan. Saya cuma bisa geleng kepala berkali-kali, jika ingat obrolan itu lagi. Dasar kampret!

Hari itu hasil pancingan lumayan, ikan kuwe terberat adalah 18 kg, alhamdulillah. Saat matahari mulai terbenam, kamipun bergegas merapat ke darat untuk pulang kandang ke dermaga Cilegon lagi, lalu berkemas menuju Jakarta.

Hingga di perjalanan pulang saat di dalam mobil yang melesat di jalan tol ke arah Jakarta, kami semua tak banyak bicara, bahkan tak bicara tentang hasil pancingan kami yang lumayan.

Kami semua masih memikirkan, bagaimana itu semua bisa terjadi. Mungkin jawabannya cuma satu, ada di kementerian dan pihak-pihak terkait yang mengurusi masalah ini semuanya impoten mirip banci kaleng, tak mau bergerak untuk memberantasnya.

Mancing Selat Sunda

Salah satu hasil tangkapan oleh sang Hantu Laut

Kini ada Susi Pudjianstuti, seorang menteri tanpa ijazah SMA walaupun ia bisa nembak ijazah hingga jenjang S1, bahkan hingga S-dongdong kalau dia mau, mirip beberapa anggota dewan memalukan yang pernah diberitakan beberapa waktu lalu.

Tapi ia tak butuh itu semua, ia telah berpengalaman dan bermandikan air laut selama puluhan tahun sejak ia meniti karir dari bawah jadi bakul ikan hingga sukses menjadi pengusaha besar yang terkenal di beberapa negara dan dapat banyak penghargaan internasional.

Namun begitu tak mudah memberantas mafia laut. Bahkan dari anak bangsa sendiri banyak yang masih mengolok-oloknya, seakan-akan mereka paling mengerti semua masalahnya. Apalagi bagi para pendengki, menteri Susi cuma tukang ngurusin laut dan ikan, cuma anak ingusan sejak dulu.

Padahal justru mereka sendiri sang pengolok dan pendengki alias haters yang tak pernah tahu apapun, bahkan tak tahu banyak nama-nama ikan laut, apalagi untuk jadi eksportir ikan, para mengimpi!

Sangat mungkin ara pengoloknya pada saat ia masih jadi bakul ikan, mungkin masih bingung mau ngapain, atau masih netek orang tuanya, bahkan ada pengoloknya jasadnya belum dibuat, rohnya masih diawang-awang, alias belum lahir. Memalukan!

Para pengolok itu tiada apa-apanya, sejatinya apa yang telah mereka pernah lakukan untuk bangsa dan negara ini? NOTHING! Mereka cuma bermodal cocot bau amisnya, jauh lebih amis dari bangkai ikan cuek makanan kucing, itu saja.

illegal fhising 02

Pemusnahan perahu nelayan illegal oleh TNI-AL.

Bisa jadi, harapan baru mungkin saja ada pada menteri Susi, karena tiada lagi yang lebih mumpuni. Kita wajib berharap walau dipundak wanita Indonesia itu, beban sangat berat untuk memberantas mafia laut telah menindihnya. Namun mengingat kegigihannnya, sepertinya ia tak pernah takut untuk menghadapinya.

Allah telah berfirman dalam surat QS. Ar-Ra’d (13) ayat 11:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (1). Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (2). Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. “

Penjelasan numerik:

(1) Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah.

(2) Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Memang Allah menganjurkan kita untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya, namun tawakkal tidak berarti hanya berdiam diri dan tidak berusaha. Ayat ini adalah ayat yang jelas, yang menunjukkan keadilan Allah dimana Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum kecuali dengan syarat.

Syaratnya adalah bahwa mereka harus meniti jalan kebaikan untuk perubahan kearah yang lebih baik, dan jika yang mereka lalui jalan kejelekan, maka perubahan pun kearah yang semakin jelek.

Bandit-bandit dari negeri seberang itu hanyalah sekedar mafia, sedangkan menteri kelautan adalah hantu lautnya! Silahkan para mafia hadapi sang hantu laut, hantu bagi para bandit-bandit pengeruk kekayaan laut Indonesia untuk bangsa asing, semoga bu menteri bisa menghadapinya, aamiin.

Karena kembali pada sejarah bangsa ini yang telah tercatat, ketika zaman kerajaan-kerajaan besar pada masa lalu seperti Samudera Pasai, Sriwijaya, Majapahit, Mataram dan lainnya, justru dilautlah kita jaya. Jalesveva Jayamahe! Semoga sukses buat bu menteri.

Susi-Pudjiastuti 001KRI_Clurit Class

 -yudiweb.wordpress.com-

Pos ini dipublikasikan di Info dan Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s