[FOTO & VIDEO] Usia 12 Tahun, Gadis Sepintar Einstein Ini Buat Pesawat Terbang Untuk Ayahnya

Sabrina-Gonzalez-Pasterski-membuat-pesawat-sendiri

Apa yang pertama kali kamu pikirkan jika mendengar nama Einstein? Jenius, kata itu yang hampir terlintas di pikiran orang jika mendengar nama salah seorang ilmuan fisika yang luar biasa ini.

Kini pada era modern seperti sekarang, memang belum ada peneliti yang mampu mengalahkan penemuan fenomenal seperti yang telah dilakukan Einstein.

Beberapa waktu lalu, netizen ramai membincangkan seorang wanita yang memiliki kecerdasan mirip Einstein. Ia bernama Sabrina Gonzalez Pasterski (kelahiran 3 Juni 1993).

Menurut beberapa ilmuwan, saking pintarnya, gadis cantik nan jenius ini diramalkan dapat melampaui karya-karya yang telah dibuat oleh Einstein.

Sejak usia 12 tahun sudah mulai membuat pesawat

Sabrina 01

Sabrina ketika berusia 12 tahun sudah memulai pembuatan pesawat untuk ayahnya.

Ketika masih berusia 12 tahun, gadis cilik asal Chicago, Amerika Serikat tersebut sudah mulai membuat pesawat terbangnya sendiri dengan satu mesin dan berkapasitas dua orang.

Ia berencana membuat pesawat terbang untuk ayahnya yang juga seorang pilot pesawat kecil jenis Cessna.

Sabrina menyempatkan dirinya membuat pesawat terbang tersebut setelah pulang dari sekolah. Waktu sisanya tetap ia gunakan untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah.

Selain itu, saat liburan diakhir pekan pun, sebagai pengisi waktunya ketika libur sekolah, ia melanjutkan membuat pesawatnya yang hanya dirakit di dalam bengkel milik ayahnya.

Memulai pembuatan pesawat

Sabrina 06

Sabrina membuat pesawat itu dengan cara mendesain sendiri, mengecat sendiri, mengelas, mengebor, mengamplas, mencetak badan, sayap, ekor lengkap dengan panel di kokpit pesawatnya.

Sabrina membuat pesawat itu dengan cara mendesain sendiri, mengecat sendiri, mengelas, mengebor, mengamplas, mencetak badan, sayap, ekor lengkap dengan panel di kokpit pesawatnya.

Ia juga harus bisa menggunakan beberapa peralatan atau tools yang biasa dipakai pria bahkan pabrik.

Ia juga harus bisa menyolder, menggunakan mesin press, menginstal tuas dan juga kabel serta merakit pesawatnya sendiri.

Bahkan ia harus bisa menerbangkan pesawat terbang buatannya ini, dan juga langsung dilakukan oleh dirinya sendiri, hebat ya?!

Utak-atik mesin pesawat

10 Maret 2006, Sabrina memulai pembuatan pesawatnya di usianya yang masih 12 tahun. Sebelum melanjutkan langkah berikutnya ia membeli mesin pesawat dan mengutak-atiknya.

Ia memadukan dari 3 jenis mesin pesawat dan memilah bagian-bagian dari ketiga mesin itu, lalu merakitnya kembali menjadi satu mesin pesawat hasil modifikasinya.

Sabrina 07

Sabrina memodifikasi dan memadukan 3 mesin pesawt menjadi satu.

30 Maret 2006, Sabrina menyelesaikan modifikasi mesin pesawatnya. Mesin pesawat yang ia digunakan memang tidak dibuatnya sendiri, karena jika ia buat sendiri maka akan memakan waktu yang jauh lebih lama, dan harus memiliki modal yang besar.

Selain itu, mesin tersebut juga harus memenuhi standar keamanan di AS dengan segala macam uji coba. “Sangat memakan waktu jika buat sendiri”, ujarnya.

Namun mesin itu berhasil ia modifikasi lagi, sehingga kinerjanya menjadi jauh lebih baik dan optimal dibandingkan dengan keluaran dari pabriknya. Akhirnya ia mendapat hak untuk menamakan mesin pesawat yang telah berhasil ia modifikasi itu yang ia namakan seperti namanya sendiri, mesin “Sabrina”. Hebat ya!

Ulang tahun yang ke 13 dan pembuatan panel

Sabrina 02

Sabrina sedang merakit kontrol panel untuk kokpitnya.

3 Juni 2006, Sabrina yang kelahiran tahun 1993 berulang tahun yang ke 13 dan ia sedang merapihkan cat dasar, dempul dan warna dasar bagian depan pesawatnya, lengkap dengan propelernya.

25 Juni 2006, perakitan lapisan baja pada bagian depan pesawat sebagai penutup mesin akhirnya ia selesaikan.

Pada bulan Juli 2006 hingga Februari 2007, ia mengerjakan bagian panel pesawat. Ia mulai membuat rangka panel, cover berikut saklar-saklarnya, instalasi kabel, menyoldernya, merakitnya, dan kemudian mengetesnya.

Itu artinya selama delapan bulan, ia mengerjakan panel berikut layar LCD sebagai informasi penerbangan untuk pesawatnya itu. Namun bukan berarti ia hanya fokus pada kontrol panel saja, namun juga tetap mengerjakan lainnya.

Sabrina 03

Sabrina sedang menguji kontrol panel hasil rakitannya.

Perakitan terhenti karena liburan dengan ayahnya

Selama pengerjaan panel untuk kabin pesawat, bukan berarti pembuatan bagian fisik pada bagian pesawat terhenti. Ia terus mengerjakan bagian lainnya dari pesawat itu.

Sabrina 08

Sabrina sedang merakit bagian sayap pesawatnya

Juli 2006, ia mengerjakan bagian rangka sayap, dan juga mengerjakan bagian rangka badan pesawat.

Agustus 2006, ia ingin liburan dulu selama sebulan dengan ayahnya yang seorang pilot amatir.

Ia ikut terbang bersama ayahnya dengan menggunakan pesawat ayahnya Cessna 150L, dan untuk sementara meninggalkan “pabrik” pesawat dalam garasi rumahnya.

September hingga Oktober 2006, ia mulai meneruskan perakitan kembali untuk sayap, ekor dan badan pesawat miliknya.

Dapat sertifikat pembuat pesawat ringan

Sabrina 04

Sabrina sedang merakit bagian badan pesawatnya

21 November 2006, Sabrina mendapat surprise, ia sangat bahagia karena mendapatkan surat izin sebagai pembuat pesawat ringan untuk olahraga (Light sport aircraft manufacturer) di usianya yang masih 13 tahun!

Pesawat hasil karyanya itu  juga sudah berhasil mendapat surat registrasi dan juga sudah mendapat nomor seri pada badannya sebagai pesawat resmi dari Amerika dengan nomer: N 5886 Q.

Desember 2006, badan pesawatnya sudah mulai dirakit dan sudah mulai terbentuk.

Sertifikat FAA sebagai pembuat mesin pesawat

26 Januari 2007, ia mendapat kejutan kembali, karena kali ini ia mendapatkan sertifikat dari FAA atau ‘Federal Aviation Administration’ memberinya sertifikat “FAA Aircraft Engine Manufacturer” sebagai hasil dari utak-atik mesin pesawat yang dibelinya dulu, dari 3 mesin menjadi satu.

Sabrina 05

Paduan 3 mesin pesawat yang dirakit Sabrina menjadi sebuah mesin baru mendapat sertifikat sebagai mesin pesawat varian baru yang dinamakan “Sabrina O-200-A”.

Hal ini membuatnya menciptakan jenis varian mesin baru yang berhasil ia dimodifikasi sendiri.

Hal itu membuat mesin pesawat yang tadinya standar, menjadi berjalan lebih optimal, dan ternyata ia telah menghasilkan mesin “varian” pesawat baru! Wow!

Ia mendapatkan sertifikat sebagai pembuat varian mesin pesawat baru, atau jenis mesin pesawat baru dari FAA, dan mesin varian itu dinamakan “Sabrina O-200-A” (Sabrina O-200-A variant).

Pesawat berdiri diatas roda dan pengetesan kabel mesin

25 Februari 2007, panel pesawat telah diletakkan pada kabin, dan pesawatnya sudah diberikan roda sehingga sudah dapat berdiri diatas roda-rodanya sendiri.

Sabrina 09

Pesawat Sabrina yang sedang dirakit setelah dipasang roda.

Namun belum dipasangi sayap karena garasi ayahnya tidak cukup besar.

1 Maret 2007, ia mulai mengecat mesin hasil modifikasinya, dan berhasil menempelkannya pada bagian depan pesawat berikut propelernya.

Di hari ke-361, menurutnya, pada malam hari setelah pulang sekolah, kontrol panel sudah di tes, dan mesin sudah menempel kokoh pada hidung pesawat.

Kini ia tinggal menyambungkan kabel-kabel mesin dan kemudian melakukan pengetesan komuniksai antara kontrol panel dengan mesin pesawat untuk pertama kalinya di malam hari itu.

Ia menggunakan kartu pintar RFID, atau RFID smart card sebagai kunci awal untuk menyalakan kontrol panelnya, yang sensornya ia letakkan dibagian kursi.

Sabrina 10

Kontrol panel yang dirakit Sabrina mulai diinstal di dalam kokpit pesawatnya.

Komunikasi antara kontrol panel dengan mesin dicoba untuk memasukkan bahan bakar ke dalam mesinnya. Semua oke.

Lalu komunikasi antara kontrol panel dengan sensor-sensor dan mesin, juga sudah oke.

Kemudian ia mencoba menghidupkan pesawatnya. NAMUN MESIN TAK MAU START!😦

Ia menduga bahwa suhu dingin mempengaruhi mesin pesawatnya. Selama musim salju itu pun ia merakit pesawat menggunakan jaket tebal, padahal ia berada di dalam garasi yang tertutup

Pengetesan mesin di garasi rumah

Di hari ke-362, menurutnya, masih dalam musim dingin yang bersalju, semua berjalan normal-normal saja. Tapi mesin belum mau menyala. Menurutnya, ada kemungkinan karena udara masih terlalu dingin.

Di hari ke-363, saat subuh, matahari bersinar terang, udara agak hangat dan cuaca sangat baik, selain itu sekolah pun sedang libur.

Sabrina 11

Mesin pesawat Sabrina sedang melakukan pengetesan di dalam garasi rumah ayahnya.

“Apakah kini saatnya?” ujar Sabrina.

Maka di pagi hari itu, ia dan ayahnya membuka pintu garasi dan terlihat salju sudah mencair, maka ia mulai men-starter mesinnya untuk pertama kali.

Propeler tampak mulai berputar, diiringi deru mesinnya, “Brrrr…!!!”

Ia pun berteriak, “Wooow!”.

Terdengar juga suara ayahnya yang berkata, “Inilah nyala mesin pertamanya!” sembari bertepuk tangan.

Mesin pun dimatikan lagi. Kini ayahnya yang berteriak, “Wooow!”.

Sabrina 13

Sabrina tampak kegirangan setelah berhasil menyalakan mesin pesawatnya

Sabrina pun membalasnya, “I told you Dad, I told you.. I told you.. I told you..!”.

“Itulah sebabnya, dan inilah obatnya, panas matahari!” jelas Sabrina kegirangan.

“Setelah sekian lamanya.., ini adalah sebuah akhir yang sangat menggembirakan!” ujar Sabrina berjingkrak-jigkrak kegirangan, lalu dipeluk dan dicium oleh ayahnya.

“Bagaimana rasanya?”, tanya ayahnya.

“Saya telah mengira, sepertinya ada sesuatu yang membeku di dalam mesin akibat dinginnya udara. Ya tuhan semuanya begitu menakjubkan ketika propeler berputar dan terdengar mesin menderu”, ujarnya sambil kedua tangannya memegang kepala.

“Oke, we loved you, muaaach”, ujar ayahnya. “I loved you too, muaaach,” ujar Sabrina membalas.

Di hari ke-363, seluruh badan pesawat berhasil dirakit, sistim avionik bekerja, sistim hidrolik dan sistim bahan bakar berjalan dengan normal, juga seluruh sistem lainnya berjalan dengan baik.

Ia telah berhasil merakit pesawat untuk ayahnya itu dengan tempo sekitar satu tahun lamanya. Perakitan pesawat oleh si jenius ini pun akhirnya selesai saat usianya baru menginjak 13 tahun, dan mulai mempromosikan kepada publik saat usianya 14 tahun.

Sabrina 12

Beberapa foto saat Sabrina membuat pesawatnya.

Sabrina selama membuat pesawatnya memang kadang dibantu oleh ayahnya, yang seorang insinyur dan pengajar pilot, namun hanya membantu sekedarnya saja. Ia juga mengumpulkan info dan data yang diperlukan dari internet.

Selain itu ia juga menanyakan tentang ilmu aviasi kepada orang-orang yang mengerti di bidangnya, termasuk ayah dan teman-teman ayahnya.

Untuk urusan rumus, ia melibatkan guru-gurunya di sekolah. Menurut beberapa di antara mereka, jika sudah bertekad bulat, Sabrina adalah seorang anak yang memiliki ambisi besar dan tak mudah putus asa.

Salah satu gurunya bahkan berucap, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan oleh Sabrina. Jika orang lain tak mampu, maka ia pasti bisa, ujar gurunya. Selain itu gurunya juga berucap, bahwa selama ia mengajar, belum pernah bertemu dengan anak seperti Sabrina.

Tambahan perangkat lainnya dan penerbangan solo

Sabrina juga menambahkan beberapa peralatan di dalam pesawatnya, seperti alat deteksi ancaman terhadap radiasi dan juga dari teroris serta sensor jika ada pesawat lain yang mendekat.

Ayahnya sangat percaya dan optimis, bahwa pesawat hasil rancangan anak perempuannya itu bisa terbang dengan baik, bahkan lebih baik dari pesawat sejenis buatan pabrik  lainnya.

https://i2.wp.com/physicsgirl.com/2009August.jpg

Sabrina saat melakukan penerbangan solo pertamanya

Ayahnya juga tahu, bahwa pesawat itu memang Sabrina buat untuknya, namun ayahnya tak mau mencoba menerbangkannya, karena ayahnya ingin agar Sabrina yang justru harus dapat menerbangkannya sendiri untuk kali pertama.

https://i2.wp.com/physicsgirl.com/2009_august.jpg

Sabrina ketika berhasil mendarat kembali pada penerbangan solo pertamanya

Dan hal itu pastinya, adalah sejarah bagi dirinya secara pribadi, yang kemudian pastinya akan ia kenang selama hidupnya, ujar sang ayah.

Akhirnya, Sabrina mengambil les private pilot untuk penerbangan solo (penerbangan sendiri) dan berhasil mendapat sertifikat itu pada 24 Agustus 2009 lalu, pada usia 16 tahun.

Kemudian Sabrina langsung mencoba menerbangkan pesawat hasil buatan tangannya itu untuk pertama kalinya, sekaligus tercatat dalam rekor sebagai test pilot wanita termuda, dan untuk test pilot untuk pesawatnya sendiri!

Berikut spesifikasi pesawat terbang buatan Sabrina yang sudah teregistrasi dengan nomor ekor atau tail number N5886Q :

Airframe Info N5886Q:

Manufacturer: Sabrina Aircraft Manufacturing
Model: MARK    Search all Sabrina Aircraft Manufacturing MARK
Year built: 2006
Construction Number (C/N): 1
Aircraft Type: Fixed wing single engine
Number of Seats: 2
Number of Engines: 1
Engine Manufacturer and Model: Cont Motor O-200A / 100 HP

Aircraft

Registration Number: N5886Q
Mode S (ICAO24) Code: A796D9
Certification Class: Experimental
Certification Issued: 2007-02-12
Air Worthiness Test: 2008-01-10
Last Action Taken: 2007-02-12
Current Status: Valid

Owner

Registration Type: Co-Owned
Address: Chicago, IL 60631
United States
Region: Great Lakes
Sabrina Gonzalez sepintar Einstein 02

Pasterski Sabrina Gonzalez.

Nilai pendidikan yang sempurna

Selama pembuatan pesawatnya yang memerlukan waktu sekitar setahun, ia mengaku sama sekali tak menganggu pelajarannya dan tak pernah bolos sekolah. Berbagai tugas dari sekolah selalu dikerjakan dan juga absen untuk les tambahan, ia selalu hadir.

Ketertarikan Sabrina di bidang sains dan teknologi memang telah dimilikinya sejak kecil. Setelah dewasa, Sabrina melanjutkan pendidikannya di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dimana dari lulusan institut terkenal sejagat itu, telah banyak lahir ilmuwan dan peneliti terkenal dari seluruh dunia.

Di Massachusetts Institute of Technology yang top sedunia itu, Sabrina mendapatkan IPK 5,00 atau dengan nilai sempurna!

Kini, dia melanjutkan program doktoralnya di Harvard University. Bahkan namanya masuk ke dalam 30 daftar wanita paling berpengaruh di dunia versi Forbes. Wow!

Sabrina Gonzalez sepintar Einstein 01

Sabrina ketika kuliah di Massachusetts Institute of Technology berhasil mendapatkan IPK 5,00 atau dengan nilai sempurna

Direbut banyak perusahaan terkenal

Beberapa perusahaan dunia telah mengantri untuk menawarkan pekerjaan kepada Sabrina. Mulai dari Direktur Jeff Bezos, hingga Badan Antariksa Amerika NASA juga rebutan ingin merekrut sarjana sains ini.

Sekarang, Sabrina sedang fokus mempelajari lubang hitam (blackhole), ruang waktu dan juga gravitasi.

“Ada rahasia Tuhan yang tidak terbatas dalam ilmu fisika,” kata Sabrina. Wanita dengan paras cantik ini memang selalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga dia tidak memiliki akun sosial media!

Impian Sabrina

Sejak umur 5 tahun Sabrina sudah tertarik dengan pesawat dan antariksa. Menurut ibunya, saat itu ia dan Sabrina ke bandara. Sabrina lalu berucap kepada ibunya bahwa ia kelak akan membuat pesawat antariksa.

Pada umur 9 tahun, Sabrina semakin menonjol diantara teman-temannya, ia sangat pintar. Ia selalu memecahkan masalah, terutama dengan rumus, dan juga pengambilan keputusannya tepat.

Sabrina Gonzalez sepintar Einstein 03

Sabrina yang ketika berumur 5 tahun pernah berucap kepada ibunya saat di bandara bahwa kelak ia akan membuat pesawat antariksa. Dan itulah yang masih ia cita-citakan, bisa berhasil membuat pesawat antariksa yang aman dan cepat untuk dapat dinaiki manusia ke planet Mars dengan tempo perjalanan hanya 33 hari.

Hingga kini,  Sabrina memang bercita-cita membuat pesawat luar angkasa kelak. Ia ingin manusia dapat menggunakan pesawat antariksa yang ia buat menuju planet Mars, dengan kecepatan dan keamanan yang jauh lebih baik.

Ia juga berharap, jika kelak manusia ke planet Mars dengan pesawat hasil rancangannya, maka akan memerlukan tempo perjalanan yang jauh lebih cepat, yaitu hanya 33 hari saja! Itulah salah satu impian besar Sabrina. (artikel oleh: YudiWeb.wordpress.com ©2016)

Penasaran bagaimana sosok Sabrina dan karyanya? Simak video berikut ini:

Anak Jenius 12 Tahun Diramalkan Pesaing Einstein Buat Pesawat Sendiri

= YudiWeb.wordpress.com =

Pos ini dipublikasikan di Kisah Inspiratif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s